Langsung ke konten
Kembali ke semua tulisan

Kami menolak membangun checkout yang tidak akan dipakai

Tokonya sudah berjualan lewat WhatsApp dan alurnya jalan. Memindahkannya ke checkout penuh berarti merusak yang sudah bekerja.

Terbit . Ditulis oleh Bunga

Permintaannya terdengar jelas: toko online dengan keranjang dan checkout. Standar, dan kami sanggup mengerjakannya.

Tapi tokonya sudah berjualan, dan penjualannya berjalan lewat WhatsApp. Pembeli bertanya, penjual menjawab, kesepakatan terjadi di percakapan itu. Bukan alur yang rapi di diagram, tapi alur yang hidup.

Kalau kami bangun checkout penuh, dua hal yang paling mungkin terjadi. Pembeli yang sudah terbiasa bertanya dulu akan tetap bertanya dulu, lalu bingung kenapa harus checkout juga. Atau mereka berhenti di halaman checkout karena tidak terbiasa, dan penjual kehilangan percakapan yang biasanya menutup penjualan.

Jadi untuk Golden Vieara kami buat katalog online yang terhubung langsung ke alur order WhatsApp. Pembeli memilih di katalog, percakapan dilanjutkan di tempat yang sudah dikuasai keduanya.

Ini sering dianggap keputusan yang kurang canggih. Kami melihatnya sebaliknya. Yang kurang canggih adalah membangun sistem lengkap yang tidak dipakai siapa pun, lalu menyalahkan penggunanya karena tidak mau berubah.

Checkout penuh tetap pilihan yang benar untuk toko dengan banyak transaksi yang tidak mungkin dilayani satu per satu lewat percakapan. Yang salah adalah memakainya sebagai jawaban bawaan tanpa melihat bagaimana toko itu sebenarnya berjualan.